Semiotika Juli 2, 2008
Posted by dinda in Uncategorized.2 comments
Usai memposting tulisan tentang Pak Goen kemarin, aku mencari-cari postingan lain tentang diskusi itu. Melihat kejadian dari sudut pandang lain itu menyenangkan. Paling tidak aku jadi tau lebih banyak dimensi dari sebuah peristiwa. Mungkin karena terbiasa membaca beberapa koran tiap hari untuk kemudian membandingkan tulisan-tulisan dari kejadian yang sama. Mungkin juga karena pekerjaan yang mengharuskan untuk selalu memverifikasi fakta dan harus membuang jauh-jauh asumsi dan prasangka.
Setelah melihat ulasan (plus foto, tentu saja!) di blog Pak Andreas, aku sampai ke blog Mbak Nenden, ‘alumni’ Kelas Narasi dua angkatan sebelumku. Aku ingat betul saat ia bertanya, sebab ia duduk tepat di depanku, berjaket biru gelap dengan rambut dikuncir.
Tapi kalimat persisnya tidak aku ingat. Aku tidak membawa alat rekam. Kurang lebih ia bertanya bagaimana Pak Goen menyikapi orang-orang yang tidak senang dengan tulisannya. Hasil dialektika Mbak Nenden dengan pertanyaan yang ia lontarkan itu dituliskannya di sini.
Jawaban Pak Goen yang sempat aku ‘rekam’ di kertas catatan adalah, “Setelah sebuah teks keluar (dipublish), itu menjadi hak publik.” Di sudut ekstrimnya, ini berarti penulis tak lagi ‘punya hak’ dengan tulisan yang sudah ia keluarkan. Interpretasi sepenuhnya ada pada publik, pada pembaca.
Ini disebut Semiotika, ilmu membaca tanda-tanda. Aku membahasnya pada skripsiku, empat tahun lalu (Astagaa… sudah selama itu ternyata!). Teks yang aku interpretasikan dalam skripsi itu adalah foto-foto invasi Amerika-Inggris ke Irak pada headline di Kompas dan di Analisa, harian local di Medan.
Yang menarik bagiku dari ulasan Mbak Nenden adalah bagaimana ia merelasikan jawaban Pak Goen pada konteks blogging – terutama pada blog yang ia tulis, tentunya – dan bagaimana ia menyikapi interpretasi dari para pembaca blognya.
Kenapa aku menganggapnya menarik? Karena ini blog: sesuatu yang amat sangat cair, kalau tidak mau disebut interaktif. Komentar-komentar (atau interpretasi) dari pembaca bisa langsung ditanggapi oleh sang penulis.
Bagiku sendiri, aku tak pernah ambil pusing dengan segala komentar. Pembaca mempunyai hak yang kurang lebih sama dengan penulis. Mungkin pada dasarnya aku orang yang cuek (atau mungkin egois?), tak pernah berusaha menyenangkan pembaca sejak pertama kali aku menulis. Kalau ada yang tak setuju, ya silahkan saja. Mau menghujat, juga tak mengapa. Pada banyak kesempatan, kritik aku terima dengan senang hati. Bagiku, kritik bukan berarti benci (entahlah dengan kasus Pak Goen – atau dalam hal ini Majalah Tempo – dan ancaman FPI). Pujian bisa melenakan, tapi kritik membuat kita selalu tajam. Dan tentu saja, “Tidak ada yang boleh disiksa karena perbedaan pendapat,” tutur Pak Goen
Namun, bicara blog bukan hanya bicara media, melainkan penggabungan antara media dan pribadi. Jadi, seringkali kritik atas satu tulisan bisa merembet kemana-mana, termasuk kepada pribadi orang yang menulisnya. Sehingga interpretasi teks tersebut tidak lagi murni hanya pada apa yang tertulis, melainkan bercampur dengan asumsi-asumsi lain, termasuk kepribadian penulisnya.
Tapi ini pun tak hanya terjadi dalam dunia blogging, tapi juga dunia sastra. Pak Goen berkata dalam diskusi itu, orang-orang (pembaca) sering tidak bisa menilai sebuah karya, tapi sangat senang dengan berbagai cerita pribadi. Ia mencontohkan para penulis perempuan Indonesia yang sebenarnya mempunyai karya bagus, namun publik malah lebih senang bergosip mengenai kehidupan pribadi mereka ketimbang bergosip mengenai karya mereka.
Jadi, bagaimana seharusnya kita menyikapi komentar yang muncul di blog kita? Aku bilang: hati boleh panas, tapi kepala tetap dingin.
*aduh, jadi kepingin nulis skripsi lagi deh. Ada yang mau jadi sponsor saya untuk ngambil S-2 nggak yaaa???*
Pak Goen Juli 1, 2008
Posted by dinda in Uncategorized.Tags: narasi diskusi
1 comment so far
Apa yang membuat tulisan-tulisan Goenawan Muhammad bisa sebegitu menawan?
Pertanyaan itulah yang selalu menggantung di benakku setiap membaca Catatan Pinggir-nya. Maka, saat kalimat terakhir esainya kuselesaikan, aku kerap mengulangnya dari awal. Mencoba mencerna kata demi kata, berharap agar jawaban melompat kedalam kepala dari sela-selanya.
Satu yang paling kentara adalah kedalamannya. Seakan, setiap tulisan adalah lahir dari dialognya dengan semesta. Dan dari bacaan yang tak terkira banyaknya, tentu saja.
“Tulisan yang bagus itu bukan memberi jawaban,” katanya dalam diskusi di Utan Kayu dua minggu lalu. Tidak ada kebenaran yang mutlak. Sebuah tulisan yang baik dan menarik akan membuka pintu baru dalam pencarian kebenaran yang lebih benar dari kebenaran sebelumnya. Ia menggelindingkan pertanyaan baru. “Mengajak orang berfikir apa jawabannya,” demikian Pak Goen berkata. Ia sadar betul bahwa proses dialektika dalam membaca adalah penting.
Maka, pada Catatan Pinggir aku kerap menemukan pengetahuan baru, sudut pandang baru, bahkan kata-kata ‘baru’. Untuk yang terakhir, Pak Goen menekankan betapa ia menghindari pemakaian kata-kata yang klise dalam tulisannya. “Jangan malu untuk memakai kamus,” katanya. Ia menganjurkan untuk tidak mengulang-ulang satu kata dalam satu kalimat, atau bahkan satu paragraf. “Dengan begitu, kita selalu alert dengan kata-kata baru,” begitu tips yang diberikannya.
Tapi meskipun terdengar klise, hanya ada satu cara untuk bisa menulis dengan baik: berlatihlah! Keterampilan dalam menulis itu tidak bisa datang dengan tiba-tiba. Tidak bisa hanya mengandalkan mood, semata; meskipun mood yang baik bisa membuat tulisan lebih mengena.
Pak Goen membagi rahasia apa yang membuatnya bisa tetap menulis dengan luar biasa dalam usia yang bisa dibilang tak lagi muda. “Deadline,” katanya. “Jika Tempo tidak meminta dan menetapkan deadline setiap minggunya, mungkin saya tidak seperti ini.”
Aku pikir, aku juga harus membikin deadline sendiri untuk memaksa diri berlatih menulis. Bukan. Bukan untuk menjadi seperti Goenawan Muhammad. Tapi untuk menjadi diri sendiri.
*sebuah catatan ketinggalan dari diskusi dua minggu lalu.
The Story of Sex, Power, Nation Juni 21, 2008
Posted by dinda in Uncategorized.Tags: narasi diskusi
3 comments
This morning, in the land of the dead kangaroo, people ask what made the smiling general smile? He smiles because it’s the age of older woman (and younger men). He has finally found THE woman of the night… and of the day, with the konde ’sustainable’ hairdo wearing sexypants and headscarf. Her name is Kartini, and he falls for her. Last night he asked her: “What do you look like beneath your clothes.”
But the general already has a wife, Meutia. But in his head, there are only two words: Polygami and Kartini. He wants another big fat Jakarta wedding. But he’s reluctant to ask his first wife’s permission. Straight speaking or twisted tongue, he can’t decide. Also, He can’t stand the idea of him making headlines on the papers “Kartini, Meutia and the country’s big boy.” Oh, The Double-edged Sword of Love is going to cut him into pieces.
So, finally he decides to do the thing that is better than silence, better than quiet. He wants Kartini, and he wants her now. So, He gathered all men who support polygamy and shouts: “Househusband of the world, unite! Bombs, boobs or bust: choose your weapon! Sitting up or melting down: power to the people. We are going for gold at the end of the rainbow! It’s time for cleaning out cockroaches and letting newness begin!!!”
Lihat kalimat-kalimat yang bercetak tebal, tidak? Itu adalah judul artikel-artikel yang ditulis Mbak – bukan ibu – Julia di The Jakarta Post. Aku merangkai-rangkainya sedemikain rupa. Iseng? Memang!
Ibu, eh… Mbak Julia, mungkin marah, mungkin sebal, mungkin juga akan tertawa dan memuji keisenganku, siapa yang tahu? Aku tidak perduli. Toh ia juga seorang yang ‘nakal’. Ia menulis artikel yang memang ‘sengaja’ memancing perdebatan. “Saya gayanya provokatif. Kalau orang baca tulisan saya itu kayak diguncang-guncang,” katanya saat diskusi di rumahnya Selasa lalu.
Jadi, jangan salahkan aku kalau mencoba bernakal-nakal ria mengikuti jejaknya. Ia kan penulis yang hebat. Apa saja bisa dijadikan bahan artikel. “Every minute, every moment adalah suatu kesempatan untuk bisa jadi sumber inspirasi,” katanya. Dalam sebulan, ia menulis lima kolom diberbagai media. “Orang bertanya, apa saya tidak kehabisan ide? Saya jawab justru saya takut, (kalau) saya mati, belum habis ide saya,” tawanya berderai, matanya bekerjap-kerjap, dan tangannya membetulkan rambut legamnya yang jatuh diatas bahu.
Bukan hanya penulis yang hebat. Ia adalah seorang akademisi yang handal. “Saya ini seorang peneliti yang terlatih. Lisfestyle saya ditunjang dengan latar belakang saya yang sangat solid sebagai seorang scholar, sebagai seorang peneliti. Saya seumur-umur melakukan penelitian, dari sejak saya SMA,” katanya sambil mengedarkan beberapa buku karya penelitiannya, termasuk buku Almanak Partai Politik Indonesia yang berisi profil lebih dari 100 partai peserta pemilu 1999. “Coba tebak berapa lama pengerjaan buku itu?” ia bertanya kepada peserta diskusi. “Hanya 3,5 bulan,” ia menjawab sendiri.
Aku sempat bertanya tentang prosesnya menemukan ‘gaya’ menulisnya. Mbak Julia menerangkan bahwa itu adalah bagian dari proses pendewasaan dirinya. “Kalau mengenai skill menulis, (itu) sudah saya miliki. Mungkin saya beruntung dan saya nggak sombong, itu semua pemberian Tuhan. Ya bakat juga…”
Pulang dari diskusi, aku garuk-garuk kepala. Yah, manalah mungkin aku bisa jadi penulis hebat seperti Mbak Julia. Aku tak punya skill, tak punya bakat, dan tak punya latar belakang yang solid sebagai seorang peneliti. Jadi, yah permisiiii… aku mau berhenti sampai disini…
*hwahwhahwahwh…*
Untuk Hiroshima Juni 13, 2008
Posted by dinda in Uncategorized.Tags: Narasi bacaan
3 comments
Malam mulai jatuh di tempat pengungsian. Pak Tanimoto yang kelelahan menemukan Ibu Kamai, tetangganya, meringkuk di tanah sambil mendekap erat bayinya. Jelas sekali bayi itu sudah meninggal sejak pagi. Ibu Kamai langsung terlonjak saat melihat Pak Tanimoto dan berkata, “Maukah Bapak menolong saya menemukan suami saya?”
Pak Tanimoto sadar bahwa kecil sekali kemungkinan untuk menemukan suami Bu Kamai yang baru saja bergabung dengan pasukan tentara sehari sebelumnya. Ia telah melihat keadaan para tentara dimana Pak Kamai ditempatkan: mereka terluka sangat parah. Namun Pak Tanimoto tak punya pilihan lain selain menghibur Bu Kamai, “Akan saya coba,” katanya.
“Bapak harus menemukan suami saya,” kata Bu Kamai. “Ia sangat sayang dengan bayi kami. Saya ingin dia melihatnya sekali lagi.”
—-
Dan aku terpaksa berhenti membaca kalimat itu. Kalimat terakhir yang menutup bab kedua tulisan John Hersey bertajuk ‘Hiroshima’ yang diterbitkan majalah The New Yorker pada 31 Agustus 1946, setahun setelah bom atom meledak di Hiroshima.
Aku harus berhenti demi meredakan debur di dada. Kutarik nafas dalam-dalam, tapi kelebat adegan itu terlalu sulit untuk tidak dibayangkan. Aku menangis. Untuk Hiroshima, aku menangis. Tidak, sesungguhnya aku menangis untuk rasa kemanusiaan.
Dengan gemetar, aku meneruskan membaca tulisan itu. Pulpen dan notes yang tadinya kupegang kini tergeletak begitu saja di atas meja. Niat semula yang ingin menelaah tulisan itu untuk bahan diskusi di Kelas Narasi Pantau, menguap begitu saja. Aku tak hendak menganalisa. Aku hanya ingin larut bersama enam karakter hibakusha – para korban bom atom – yang dipilih Hersey untuk menceritakan betapa tragisnya dampak bom yang dijatuhkan pada 6 Agustus 1945 itu.
Laporan itu begitu menyentuh. Tak pernah kubaca laporan jurnalistik yang sanggup membuatku berlinang air mata. Hersey menuliskannya dengan begitu detail, juga begitu dekat. Membacanya membuat aku merasa berada disana: ikut melihat kilatan cahaya putih menyilaukan pada pukul 8.15 pagi; merasakan panasnya yang membakar; pecahan-pecahan kaca dan reruntuhan gedung yang berterbangan; gelap yang pekat; hujan yang deras; kebingungan atas apa yang terjadi; dan melihat seluruh kota yang porak poranda dengan mayat terserak dimana-mana.
Yang lebih menyedihkan adalah kenyataan bahwa aku tak tahu apapun tentang bom atom Hiroshima, kecuali yang pernah terbaca pada buku teks sekolah. Yang paling kuingat adalah bom atom yang meledak di Hiroshima – dan kemudian di Nagasaki – merupakan akhir dari Perang Dunia II, dan Indonesia menyatakan kemerdekaan tak lama sesudahnya. Ironisnya, aku dulu berfikir bahwa Jepang ‘berhak’ mendapatkannya, karena mereka telah berlaku begitu kejamnya saat menjajah Indonesia. Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi. Itu karma.
Laporan yang ditulis 62 tahun lalu itu terasa masih relevan hingga kini. Ia seperti cermin yang memantulkan berbagai kekejaman yang masih terus menerus terjadi tanpa jeda dalam perang di berbagai belahan dunia. Dan aku tau persis bahwa pertanyaan ‘mengapa’ hanya akan jadi sebuah retorika: kita tak pernah sungguh-sunggu belajar dari masa lalu.
Cerita Kompor Juni 11, 2008
Posted by dinda in Uncategorized.Tags: narasi tugas
5 comments
Aku tak hobi memasak dan tak suka bereksperimen di dapur. Bagiku, membeli makanan atau pesan antar adalah pilihan yang paling efisien. Maka tak heran jika di dapurku hanya ada satu kompor gas kecil portable yang sebenarnya lebih cocok kalau dibawa camping.
Meski begitu, Mbak Ayu – pekerja paruh waktu yang membantu beres-beres di rumahku – tidak pernah mengeluh. “Nggak apa-apa Mbak,” kata perempuan 28 tahun itu dengan logat Jawa, “Mbak kan makannya sedikit. Lagian masaknya juga jarang-jarang.” Begitu selalu ia beralasan kalau aku bertanya apakah ia membutuhkan kompor yang lebih besar untuk memasak.
Tapi sebulan lalu aku membeli kompor gas besar dengan dua tungku, atas permintaan ibuku. Beliau akan berkunjung ke Jakarta dan berencana memasak semua masakan kesukaanku. Jadilah aku berpayah-payah mencari kompor gas dan mengubah wajah dapur agar terhindar dari kecerewetan ibuku.
Ternyata yang tak kalah payah adalah mencari tabung gas. Dua pasar aku jelajahi. Bertanya dari toko satu ke toko yang lain tentang tabung gas isi 12 kilo. Kebanyakan tidak menjual tabung, melainkan hanya mengisi ulang gas di dalamnya. Kalaupun ada yang menjual harganya mencapai 600 hingga 750 ribu. Hah! Padahal, biasanya tabung tersebut dihargai 250 ribu saja.
Dua hari setelah ‘pencarian’ itu, beberapa koran nasional menuliskan headline tentang langkanya tabung gas 12 kilo. Ternyata aku tidak sendiri. Banyak yang bernasib sama.
Mbak Ayu kemudian muncul dengan ide bagus. “Beli tabung gas yang kecil aja mbak, yang warna hijau itu.” katanya sambil merujuk tabung gas isi 3 kilo yang dibagikan gratis ke penduduk miskin. Pemerintah memang tengah melakukan konversi dari minyak tanah ke gas untuk menyiasati pengurangan subsidi minyak.
Aku heran. “Loh, memangnya itu dijual ya Mbak?” tanyaku. ”Yang dijual ya ada Mbak. Tapi ada juga yang dikasih gratis,” jawabnya. Ia bercerita bahwa banyak tetangganya yang sudah mendapat satu paket kompor gas satu tungku sekalian tabung gasnya. “Tapi saya belum dapet,” katanya.
Akhirnya aku setuju dengan ide Mbak Ayu. Dari hasil surveinya, Mbak Ayu menemukan tempat membeli tabung itu dengan harga 110 ribu, plus 15 ribu untuk gasnya. Aku memberinya uang dan ia kembali dengan menenteng tabung hijau mentereng.
Aku yang hampir tak pernah masuk ke dapur – apalagi untuk memasang gas, berduet dengan Mbak Ayu yang takut-takut, turun ke dapur untuk memasang gas ke kompor baru. Wajah Mbak Ayu terlihat khawatir, ia berdiri agak jauh dari kompor. “Saya takut meledak,” katanya tegang. Aku berusaha meyakinkannya bahwa kompor gas ini aman, meskipun dalam hati aku deg-degan karena takut salah pasang. Setelah membaca buku petunjuk dengan seksama, akhirnya aku bisa memasangnya.
Mbak Ayu masih ragu-ragu mendekati kompor dan terlihat bingung menghidupkannya. “Tetangga saya bilang, kompor gas itu bahaya,” katanya beralasan. Aku kemudian mencontohkan kepadanya cara menghidupkan dan mematikan kompor. Juga cara menghidupkan dan mematikan gasnya. Setelah satu-dua kali mencoba Mbak Ayu menjadi biasa.
Dapur kami menjadi semarak sejak itu. Mbak Ayu memasak macam-macam. Ia senang, karena gasnya tidak cepat habis. Tidak seperti kompor portable-ku yang gasnya harus sering diganti. Padahal sekaleng gas portable dengan berat 230 gram harganya mencapai 10 ribu, dan hanya bertahan beberapa hari saja.
“Kalau begini bisa hemat ya Mbak,” katanya. Ia bercerita bahwa minyak tanah sangat mahal sekarang ini, “Seliter bisa sampai 7500.” Padahal, dirumahnya dalam sehari ia membutuhkan setidaknya tiga liter minyak tanah untuk memasak sate dan kuahnya. Suami Mbak Ayu memang berjualan sate keliling. “Sayang, saya belum dapat kompor dan tabung gas yang gratis itu. Padahal kan hemat ya Mbak,” katanya setengah bergumam.
Pikiranku langsung tertuju pada program konversi minyak tanah ke gas yang dijalankan pemerintah. Teoriku, tetangga Mbak Ayu pasti banyak yang pesimis terhadap pemakaian gas, seperti yang banyak kubaca di koran. Jadi, jika Mbak Ayu melihat betapa hematnya memakai gas, mungkin ia juga akan beralih ke gas. Dan ia akan bercerita kepada tetangganya tentang betapa hematnya gas. Sehingga pada akhirnya tetangganya juga akan beralih ke gas.
Maka dengan hati-hati aku menawarkan untuk membelikan sebuah kompor gas kecil berkut tabung untuknya. “Nanti pelan-pelan bisa dicicil ke saya,” kataku. “Mbak Ayu pikirin aja dulu. Nggak usah diputuskan sekarang,” lanjutku lagi. Mbak Ayu terlihat sumringah. “Wah terimakasih Mbak…” katanya. Matanya berbinar-binar.
- - - -
Keesokan harinya Mbak Ayu datang. Ternyata dia menolak untuk dibelikan kompor gas. “Saya sudah tanya-tanya tetangga, Mbak. Mereka pada nggak pake kompor yang dikasih gratis itu.” Mbak Ayu mendengar cerita tetangga tentang kompor yang meledak. Apalagi, beberapa bulan lalu daerah sekitar rumahnya kebakaran dan ada desas desus karena kompor. “Rumah saya kan dindingnya triplek mbak, jadi kalau meledak bisa hangus semua,” katanya sambil membandingkan rumahnya dan rumahku yang berdinding batu. “Saya pakai minyak tanah aja Mbak. Biar mahal yang penting aman.”
Yah. Teoriku mungkin benar, mungkin juga salah. Tapi mungkin juga pemerintah tidak memperhitungkan ketakutan Mbak Ayu dan tetangganya saat memulai program konversi: pemerintah menutup mata saat banyak kompor gas dan tabungnya teronggok percuma.
Aku mengalah dan menghormati keputusan Mbak Ayu sambil berharap ia bisa ‘belajar’ memakai kompor gasku, sampai akhirnya berani untuk memakai kompor gas sendiri dan tak perlu lagi membeli minyak tanah yang harganya akan semakin mahal. Aku berpesan padanya, jika ia berubah pikiran dan ingin membeli kompor aku akan selalu senang membantu.
Teuku Ismail Juni 2, 2008
Posted by dinda in Uncategorized.Tags: narasi tugas
7 comments
Tanyakan ini padanya: Apa arti sebuah nama. Kemungkinan besar ia hanya akan tersenyum dan tertawa-tawa jail sambil memberikan berbagai jawaban asal yang sekonyong-konyong terlintas dibenaknya. “Namaku Ismail, Teuku Ismail,” katanya menirukan gaya James Bond, lengkap dengan mata yang disayu-sayukan dan suara yang di tegas-tegaskan.
Memang, itulah nama asli laki-laki kelahiran 3 Oktober 1978 ini. “Kalau di tempat formal, aku pakai nama itu,” ujarnya. “Misalnya di tempat kerja,” lanjut lelaki yang bekerja di perusahaan survei minyak ini. Namun, para koleganya yang kebanyakan berwarga negara asing juga terpecah menjadi dua kubu. Sebagian memanggil Ismail, sebagian lagi memanggi Teuku, yang sebenarnya bukanlah nama, melainkan gelar kebangsawanan di daerah Nangroe Aceh Darussalam.
“Oleh orang tua, aku dipanggil Popon. Popon adalah singkatan dari ‘Ampon’, panggilan untuk anak laki-laki yang bergelar Teuku” tuturnya. Panggilan ini masih berlaku jika ia pulang kampung, ke Desa Meunasah Lhee, Sigli, Nangroe Aceh Darussalam. Tetangga, kerabat, teman bermain, hingga santri yang belajar di pesantren milik ayahnya memanggilnya dengan sebutan ini.
Ia kemudian ‘mengubah’ panggilannya saat ia pindah ke Bandung, tempat ia menghabiskan lima tahun kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahteraan Sosial. “Itu tuntutan kota besar,” ujarnya cengengesan. Sebenarnya alasan perubahan nama itu sederhana. “Beberapa teman di Bandung juga dari Aceh, dan beberapa juga dipanggil Popon.” Jadi, dengan semangat ingin berbeda dari yang lain, ia ‘memplesetkan’ nama panggilannya menjadi Papin. “Papin kan keren,” katanya sembari terkekeh, seolah memperoleh kepuasan dari keberhasilannya mengusili lawan bicaranya.
Tetapi, oleh para keponakannya ia dipanggil dengan sebutan Kocut, yang sebenarnya berasal dari kata Ayah Cut, atau Ayah Kecil. “Aku memang anak paling kecil. Saudaraku ada delapan dan umurnya terpaut jauh. Yang termuda beda 17 tahun dan yang paling tua beda 30 tahun.” Tak heran jika keponakannya ada yang seumur atau bahkan lebih tua darinya.
Berbagai macam nama panggilan ini ternyata tak menyusahkannya. Malah, lelaki berkacamata minus enam ini sengaja membuat nama-nama ini sebagai penanda kapan ia harus berlaku formal dan kapan bisa santai. Bisa juga sebagai alat untuk ‘mengaburkan jati diri’ saat berkenalan dengan orang-orang baru: “Kalau sama sales aku pakai nama Papin.”
Lalu bagaimana dengan istrinya? “Aku dipanggil abang.” Jawabnya seraya menghela napas. Ia mengaku tidak begitu suka dengan panggilan sayang dari istrinya itu. “Kan lebih bagus kalau dipanggil ‘Yang Dipertuan Agung’…”. Hmmm. Apapunlah.

